Senin, 30 Juni 2008

Perlahan kau datang dalam hidupku
mencoba memberi warna lain
mencoba menghapus luka
tapi maafkan aku tak pernah bisa

perlahan kau menawarkan sapu tangan
dengan santun kau minta ku menyeka darah
yang terus mengalir dari suka yang mendera
tapi darah itu tak jua berhenti

perlahan kau berikan sayang
kau limpahkan cinta agar aku lupa
tapi aku tak pernah mampu menyingkirkan nyeri

terimakasih,
tapi cinta ini tak akan pernah jadi milikmu

Senin, 09 Juni 2008

RANDU-RANDU IPB

(for my old friend Lis)

randu-randu itu masih tegak disana
ditengah Taman Koleksi
tempat kita belajar

buah randu itu mulai merekah Lis
seperti dulu
masa yang begitu jauh
masa yang sudah kita tinggalkan

ingatkah kau Lis
Saat mereka mulai merekah
dan sunyi menyergap seputar kampus
serat seratnya terbang melayang
hinggap di setiap penjuru
jatuh di lembar-lembar diktat mu
menempel di kerudungku

Ingatakah kau pada masa itu Lis?
tawa senda diantara serat-serat kapuk
yang seperti salju

kapuk itu terbang jauh
seperti masa itu yang semakin jauh

Cinta vs Aku

aku memiliki raga
aku memiliki rupa
akumemiliki jiwa
aku memiliki cinta
tapi apakah cinta memilki aku?

dan ketika cinta berpaling dariku
akut ak kehilangan apa-apa
pun rasa sedih yang meretakan jiwa

dan ketika cinta meninggalkanku
aku tetap tegak berdiri
dan rasa duka itu
tak pernah mampu meruntuhkanku

PUTRI GUNUNG - TANGKUBAN PARAHU

Angin pagi
perih menyapa mataku
yang tak mampu terlelap malam tadi
meskipun aku sangat ingin
tapi pikiranku berjalan amat jauh
dan hatiku tak henti berdesir halus

bagaiamana aku mampu menahan diri darinya
sedang sekian jarak jauhnya,
aku masih saja memikirkannya?

angin pagi menyapa hati ayng dingin
bilasaja kau disini bersamaku
memandang bukit-bukit itu
mendengar gemercik itu

seandainya


(buat mutiara hatiku Bintang)

FRANKFURt AM MAIN

aku ingin berjalan perlahan bersamamu
ditepi sungai Main
di jalan setapak
dibawah pohon-pohon musim semi
sambil menggenggam jemari mimpimu

aku ingin duduk disisimu di bangku taman
di sisi sunagi Main
sambil bersandar di pundak sepimu
menikmati saat mentari jatuh
dan langit perlahan redup

HAUPTBANHOF - GRAUEURSTRASSE

Trem berayun membelah tengah malam
pekat berangsur sunyi
pandangku berkeliling
wajah-wajah lelah
rindu pelukan
rindukan bantal

sendiri aku berdialog dengan hatiku
apa yang ku cari sejauh ini
apa yang kudapat selelah ini
apakah semua seimbang?

melangkah gontai di gelap malam
lelah menyergap seluruh diri
ingin ku rebahkan seluruh asa
terbangkan segenap penat

GRAUERSTASSE - HAUPTBANHOF

saat waktu berlari
dari trem ke trem
tak kusangka ada yang tertinggal di sana
hatiku
kenanganku

saat waktu berkejaran
dari rel ke rel
ku dengar sekilas desah
lelah

pagi berdiri riang
diantara cahaya matahari
musim semi
hangatnya menyinari wajah wajah ceria

Grauerstrasse - Hauptbanhof
pagi-pagi itu ku lalui
ada dingin menyapa pundak

musim semi ini
indah

FESTHALLE- FRANKFURT

Pandanganku lepas ke wajah air dalam kolam itu,
jika saja kau disini,
maka hari-hari ini
tak akan terasa amat panjang dan sunyi
dan aku akan sandarkan mimpiku di bahumu
bermimpi tentang kita
yang tak pernah ada
yang tak akan pernah ada
dan taka akan kurasakan sunyi itu
mencengkeram dalam dingin
sampai ke hati
karena kau akan selalu menghangatkanku
dengan senyummu
dengan tatapmu

dan kupandang tiang tiang itu
tegak dalam sunyi
dan lapangan sepi berangin
hanaya suara desau angin menyapa samar
dan kulihat angan kita
bercengkrama disana
meliuk mengikuti angin
melambai ke langit

dan diantara bunga-bunga nila itu
ada kupu-kupu mimpi kita
terbang dan hinggap sesuka hati
dan kau ada di sini
di dalam hati

Rabu, 04 Juni 2008

Dan waktu terus berlalu

Air jernih
Yang mengalir dalam sungai rindu
Bermuara pada danau kristal kalbu
Yang perlahan membeku

kristal rasa yang tepi-tepinya mengiris nyeri
Yang ujung-ujungnya menghujam sendu
Yang setiap bagiannya menancapkan ragu

Dan ketika percaya bagai terhempas, hancur berkeping,
sebagian menjadi debu
sebagian menjadi bisu
Tapi tak mampu memusnahkan rindu

dan waktupun terus berlari
bersama dirimu
membawa dustamu
terselimut dalam segala lembutmu

dan detikpun tak pernah henti
membawamu
pergi dariku